Representasi Toxic Relationship Tokoh Aurora Pada Film Jalan Yang Jauh Jangan Lupa Pulang
##plugins.themes.bootstrap3.article.main##
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi mengenai hubungan toxic tokoh Aurora dalam film Jalan Yang Jauh Jangan Lupa Pulang dengan metode analisis semiotika John Fiske teori The Codes of Television. Pada teori tersebut memiliki tiga klasifikasi level diantaranya adalah level realitas, level representasi, dan level ideologi. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif dengan cara observasi, dokumentasi, dan studi literatur sebagai teknik pengumpulan datanya. Rumusan masalah penelitian ini yakni sebagai berikut; Bagaimana level realitas hubungan toxic tokoh Aurora dalam film Jalan Yang Jauh Jangan Lupa Pulang? Bagaimana level representasi hubungan toxic tokoh Aurora dalam film Jalan Yang Jauh Jangan Lupa Pulang? Bagaimana level ideologi hubungan toxic tokoh Aurora dalam film Jalan Yang Jauh Jangan Lupa Pulang?. Dari hasil penilitian ini mendeskripsikan bahwa level realitas, level representasi, dan level ideologi pada tokoh Aurora memiliki kesamaan dengan realitas sosial yang terjadi saat ini. Dimana gestur hingga ekspresi pada tiap pemeran film menonjolkan sisi tersebut, seperti karakteristik yang cenderung tidak peduli atau acuh dengan keberadaan orang-orang yang ada pada lingkungan sekitarnya, dengan kata lain sisi egoisme lebih tertonjol dalam sifat tokoh Aurora sebagai karakter yang mengalami hubungan toxic.
##plugins.themes.bootstrap3.article.details##
[2] A. Azizi, “Menyingkap Pesan Sosial di Balik Layar Film,” himakom. Accessed: Oct. 28, 2023. [Online]. Available: http://himakom.student.uny.ac.id/menyingkap-pesan-sosial-di-balik-layar-film/
[3] F. R. Makarim, “Perlu Tahu agar Tak Terjebak, Ini 6 Ciri-Ciri Hubungan Toxic,” halodoc.com. [Online]. Available: https://www.halodoc.com/artikel/perlu-tahu-agar-tak-terjebak-ini-6-ciri-ciri-hubungan-toxic
[4] C. Takariawan, “Survei: Perempuan Lebih Egois,” Kompas.com. [Online]. Available: https://nasional.kompas.com/read/2011/06/06/11595249/~Beranda~Isu Wanita
[5] N. Solferino and M. E. Tessitore, “Human networks and toxic relationships,” Mathematics, vol. 9, no. 18, pp. 1–9, 2021, doi: 10.3390/math9182258.
[6] E. Prawintasari, “Toxic Relationship Dalam Media seni,” Prosiding, pp. 229–237, 2022.
[7] S. Wulandari, “Media Sosial Dan Perubahan Perilaku Bahasa,” Mediakom : Jurnal Ilmu Komunikasi, vol. 2, no. 1, pp. 181–188, 2018, doi: 10.35760/mkm.2018.v2i1.1890.
[8] N. I. Purnamasari, “Cancel Culture: Dilema Ruang Publik Dan Kuasa Netizen,” Mediakom : Jurnal Ilmu Komunikasi, vol. 6, no. 2, pp. 137–149, 2022, doi: 10.35760/mkm.2022.v6i2.7719.
[9] E. A. Sosiawan, “Penggunaan Situs Jejaring Sosial sebagai Media Interaksi dan Komunikasi di Kalangan Mahasiswa,” Jurnal Ilmu Komunikasi, vol. 9, no. 1, pp. 60–75, 2020.
[10] S. Kemp, “Digital 2023: Indonesia,” Datareportal. Accessed: Oct. 28, 2023. [Online]. Available: https://datareportal.com/reports/digital-2023-indonesia
[11] M. R. Nasution, N. Farida, and F. D. Lestari, “Penggunaan Media Dan Kredibilitas Media Online: Menganalisis Pengaruhnya Pada Pemenuhan Kebutuhan Informasi Audience,” Mediakom : Jurnal Ilmu Komunikasi, vol. 7, no. 1, pp. 76–86, 2023, doi: 10.35760/mkm.2023.v7i1.8435.
[12] A. Syafira, D. Safitri, J. Seni, R. Fakultas Bahasa, and D. Seni, “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini : Tanda Dan Penanda John Fiske Sebagai Film,” vol. 2, no. 3, p. 2022, 2022.
[13] H. Pongantung et al., “Pentingnya Edukasi Dampak Toxic Relationship Pada Mahasiswa,” Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara, vol. 3, no. 2, pp. 2162–2169, 2023.
[14] A. Aprilia, “Toxic Relationship Dalam Film ‘Jalan Yang Jauh Jangan Lupa Pulang’ Karya Angga Dwimas Sasongko,” Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, 2023.
[15] H. Ahla, N. Amin, R. Q. Adisyah, and R. Ramadhani, “Analisis Emosi Pada Tokoh Aurora Dalam Film Jalan Yang Jauh, Jangan Lupa Pulang,” Academia.Edu, 2023.
[16] A. Ichwani and V. D. Adiprabowo, “Representasi Komunikasi Keluarga dalam Film Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang,” Bandung Conference Series: Public Relations, vol. 4, no. 1, pp. 31–36, 2024, doi: 10.29313/bcspr.v4i1.10251.
[17] E. Murdiyanto, Metode Penelitian Kualitatif (Sistematika Penelitian Kualitatif). 2020.
[18] A. Risi and Z. Zulkifli, “Kajian Semiotika Ilustrasi Digital Karya Agung Budi Santoso (Pendekatan Semiotika Roland Barthes),” MAVIS : Jurnal Desain Komunikasi Visual, vol. 4, no. 02, pp. 47–55, Sep. 2022, doi: 10.32664/mavis.v4i02.739.
[19] Z. Abdussamad, Metode Penelitian Kualitatif, 1st ed. Makassar: Syakir Media Press, 2021.
[20] Kuntjojo, Psikologi Kepribadian. Kediri: Kediri : Universitas Nusantara PGRI Kediri, 2009.
[21] S. T. Agatha, “Representasi Egoisme Dalam Film ‘Pintu Terlarang,’” Jurnal Kommas: Universitas Sebelas Maret, p. 18, 2021.
[22] D. F. R. Puspita and I. K. Nurhayati, “Analisis Semiotika John Fiske Mengenai Realitas Bias Gender Pada Iklan Kisah Ramadhan Line Versi Adzan Ayah,” ProTVF, vol. 2, no. 2, p. 157, 2019, doi: 10.24198/ptvf.v2i2.20820.
[23] R. A. Pasha, “Representasi Gay Dalam Video Klip You Are The Reason - Calum Scott,” Universitas Semarang, 2020.
[24] T. Pah and R. Darmastuti, “Analisis Semiotika John Fiske Dalam Tayangan Lentera Indonesia Episode Membina Potensi Para Penerus Bangsa Di Kepulauan Sula,” Communicare : Journal of Communication Studies, vol. 6, no. 1, p. 1, 2019, doi: 10.37535/101006120191.
[25] O. Sutanto, “Representasi Feminisme Dalam Film ‘Spy,’” Jurnal e-Komunikasi, vol. 5, no. 1, pp. 1–10, 2017.
[26] A. A. Suwasono, “Elemen Tanda Dalam Film,” Online Journal of ISI Yogyakarta, vol. 02, no. 4, pp. 43–52, 2012.
[27] J. Narimo, “14 Tipe Shot Dalam Pengambilan Gambar Film,” Tumpi. Accessed: Jul. 22, 2023. [Online]. Available: https://tumpi.id/14-tipe-shot-dalam-pengambilan-gambar-film/
[28] A. Puji, “Intermittent Explosive Disorder,” hellosehat.com. Accessed: Dec. 16, 2023. [Online]. Available: https://hellosehat.com/mental/gangguan-mood/penyebab-gangguan-ledakan-saat-marah/
[29] A. Rifda, “11 Arti Warna dalam Psikologi dan Filosofinya,” gramedia.com. Accessed: Dec. 16, 2023. [Online]. Available: https://www.gramedia.com/best-seller/arti-warna-dalam-psikologi-dan-filosofinya/
[30] V. Garcia, “Bukan Cengeng, Kita juga Bisa Menangis Ketika Sangat Marah,” klikdokter.com. Accessed: Dec. 16, 2023. [Online]. Available: https://www.klikdokter.com/info-sehat/berita-kesehatan/bukan-cengeng-kita-juga-bisa-menangis-ketika-sangat-marah
[31] S. Nizar, “Gelas dan Hati,” RiauPos.co. Accessed: Dec. 16, 2023. [Online]. Available: https://riaupos.jawapos.com/betuah/29/05/2023/302371/gelas-dan-hati.html
[32] E. Wijayanti, “7 Sikap yang Bisa Membuat Hubungan Makin Renggang,” fimela.com. Accessed: Dec. 16, 2023. [Online]. Available: https://www.fimela.com/relationship/read/5426648/7-sikap-yang-bisa-membuat-hubungan-makin-renggang
[33] M. Hendrasari, “Arti di Balik Suara yang Tinggi dan Cepat Saat Debat,” Kompas.com. Accessed: Dec. 16, 2023. [Online]. Available: https://lifestyle.kompas.com/read/2014/06/11/0759507/Arti.di.Balik.Suara.yang.Tinggi.dan.Cepat.Saat.Debat
[34] C. Tanjoeng, “Ambient Lighting: Pengertian, Jenis, dan Manfaat,” detik.com. Accessed: Dec. 16, 2023. [Online]. Available: https://www.detik.com/properti/interior/d-7088108/ambient-lighting-pengertian-jenis-dan-manfaat
[35] F. Muliathoha, “Subjek Manusia Egois Max Stirner,” Sangla Institute. [Online]. Available: https://www.sanglah-institute.org/2021/02/subjek-manusia-egois-max-stirner.html